“Teng… Teng… Teng…” suara lonceng sekolahpun berbunyi, pertanda selesainya kegiatan MOS terakhir di sekolah barunya Caca. Caca menunggu Ayahnya menjemputnya di gerbang sekolah. Beberapa saat kemudian,
“Hai... Lagi nunggu jemputan, ya?” dengan tiba-tiba seorang anak lelaki tak dikenal menyapanya.
“Hai juga. Iya nih. Ada apa, ya?” Caca menjawab sapaan dari si lelaki.
“Oh… gak apa-apa. Aku cuma mau mengajak kamu berkenalan. Boleh kan?”
“Iya, boleh-boleh aja kok.” jawab Caca dengan singkat.
“Ya udah… Kenalin, namaku Reski, tapi kamu bisa panggil aku Kiki. Nama kamu siapa?”
“Namaku Risa, tapi kamu juga bisa panggil aku Caca.”
“Wih… Caca… Lucu juga namanya, kaya orangnya. Hehe… Oh ya, kamu kelas 7 apa, Ca?” tanya Kiki sambil tersenyum.
“Ah… Ada-ada aja kamu, Ki. Jadi malu. Caca kelas 7B, kamu sih?” jawab Caca sambil membalas senyuman Kiki.
“7B? Kiki juga kelas 7B. Wah… Berarti kita sekelas dong, ya? Tapi kok kayaknya Kiki belum pernah liat kamu di kelas?”
“Iya dong. Ah… Masa sih, Ki?”
“Iya…”
“Tiid… Tiid… Tiid…” terdengar suara klakson mobiln Ayahnya Caca.
“Ya udah, Ki. Ayah Caca udah datang tuh. Ca pulang duluan, ya?”
“Iya, Ca. Hati-hati dijalan aja, ya.”
“Iya, makasih.”
“Sama-sama.”
Keesokan harinya mereka bertemu di sekolah, dan merekapun berteman dekat.
Seminggu berlalu. Dimulailah kegiatan belajar mengajar di sekolah Caca dan Kiki. Pada saat itu, di kelas mereka, Caca ditunjuk oleh wali kelas untuk mencatat teman yang melanggar peraturan sekolah ataupun yang melanggar pada saat sedang kagiatan belajar.
Setiap hari Caca memperhatikan teman-temannya. Dengan kagetnya Caca, ternyata Kiki adalah teman yang paling banyak melanggar peraturan. Mau tidak mau, Caca harus mencatat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh teman-temannya, meskipun temannya yang melanggar itu adalah Kiki.
Suatu hari saat Bapak Guru Wali Kelas mengajar di kelas.
“Risa, coba Bapak lihat catatan pelanggaran-pelanggaran di kelas dalam minggu ini!” seru Bapak Guru Wali Kelas sambil menjulurkan tangannya didepan Caca.
“Ini, Pak.” jawab Caca sambil menyerahkan buku pelanggaran kelasnya itu.
“Mana yang bernama Reski?” tanya Pak Guru pada anak-anak di kelas.
“Saya, Pak!” seru Kiki.
“Wah… Wah… Wah… Kamu ini, kenapa banyak sekali pelanggaran yang kamu lakukan seminggu ini?” tanya Pak Guru pada Kiki.
“Maaf Pak, pelanggaran apa, ya? Saya tidak melakukan apapun.” jawab Kiki heran.
“Sangat banyak nama kamu tertulis di catatan pelanggaran kelas ini. Tidak mungkin Caca mengarang, buktinya pelanggaran yang ia lakukan, ia tulis di catatan ini.”
“Huuh…” sorak anak-anak di kelas sambil melihat kepada Kiki. Dan Kikipun merunduk karena malu.
“Sst… Sudah… Sudah… Jangan ribut! Kelas sebelah sedang belajar, nanti mereka terganggu oleh sorakan kalian. Ya sudah, kita lanjutkan materi.” kata Pak Guru pada anak-anak.
“Iya, Pak.” jawab anak-anak.
Mereka melanjutkan kegiatan belajar mereka di sekolah. Hingga tibalah waktu istirahat.
“Teng… Teng… Teng…” bel sekolah berbunyi.
Pada waktu Caca sedang memegang buku pelanggaran kelas sambil duduk didepan Mushola sekolah dengan teman-temannya, Kiki datang menghampirinya.
“Ca, apa maksud kamu menuliskan banyak namaku di catatan pelanggaran kelas?” tanya Kiki pada Caca sambil merebut buku catatan pelanggaran yang sedang dipegang Caca.
“Maaf, Ki. Habis kamu banyak melanggar sih. Pada hari senin kemarin aja, kamu memakai sepatu berwarna, dan pada saat Guru sedang menerangkan di kelas, kamu malah menjaili anak-anak dengan melempar kertas-kertas pada mereka.” jawab Caca sambil merebut kembali buku catatan itu.
“Apa susahnya sih, kurangin dikit catatan pelanggaran punya Kiki? Katanya teman?”
“Ya susah lah, Caca itu udah dikasih kepercayaan sama Pak Guru dan teman-teman. Masa Caca harus ngehianatin kepercayaan mereka sama Caca? Gak mungkin kan!” seru Caca.
“Argh… Susah banget sih ngomong sama orang kayak kamu, Ca. Makan tuh kepercayaan!” sentak Kiki sambil merebut lagi buku catatan itu dan melemparnya ke tanah, dan kemudian pergi.
“Ih… Sensi banget sih jadi orang!” seru Caca sambil berteriak karena Kiki sudah terlanjur pergi.
Setelah kejadian itu, mereka tidak bersapa satu sama lain. Walaupun mereka sama kelas, mereka merasa mereka tidak mempunyai tali pertemanan antara mereka.
Hingga setahun berlalu, liburan kenaikan kelaspun berlalu. Dan pembagian kelas yang barupun ditempel di madding sekolah. Meskipun dahulu mereka pernah berteman, tetepi saat mereka membaca madding, mereka tidak merasa bahwa tahun yang sekarangpun mereka di sekelasskan.
Beberapa hari setelah pembagian kelas, sepulang sekolah, ketika Caca baru sampai di rumahnya,
“Kring… Kring… Kring…” bunyi telepon rumah Caca. Dan iapun mengangkat telepon itu.
“Assalamu’alaikum…” kata Caca.
“Wa’alaikum salam… Apa benar ini dengan Caca?” jawab si penelepon.
“Iya. Maaf, dengan siapa aku bicara?”
“Aku………”
“Tuut… Tuut… Tuut…” telepon itupun mati dengan sendirinya, sehingga membuat Caca penasaran.
Beberapa saat kemudian, handphone Cacapun berbunyi. Ternyata nomor yang tidak dikenal memanggil handphonenya. Dan pastinya ia langsung menerima panggilan itu.
“Haloo… Assalamu’alaikum…” katanya mengucap salam.
“Wa’alaikum salam… Apa benar ini Caca?” jawab si penelepon yang sama suaranya seperti yang tadi menelepon ke telepon rumahnya.
“Iya, ini Caca. Ini siapa, ya?” tanya Caca penasaran.
“Aku Kiki teman sekelasmu. Kamu masih ingat aku kan, Ca?”
“Kiki? Kiki yang mana, ya? Maaf, kita kan baru masuk kelas baru, jadi Caca belum hafal sama teman-teman di kelas. Emang Kiki duduknya disebelah mana, dan siapa teman sebangku Kiki?”
“Ah… Masa kamu lupa sih, Ca? Ini Kiki Reski teman sekelasmu waktu kelas 7. Di kelas yang sekarang, aku duduk dipojok sebelah kanan, sebaris sama bangku kamu. Teman sebangkuku Rio. Kamu tahu Rio?”
“Oh… Kiki yang waktu dulu marah-marah gak jelas itu, ya? Hehe. Maaf ya Ki, habis kamu duduknya di bangku pojok sih, pantas aja Caca gak suka lihat kamu. Rio? Iya, Caca tahu. Emang Kiki tahu nomor Caca dari siapa?”
“Huh… Dasar kamu, Ca. Ternyata kamu masih ingat juga sama kejadian dimasa lalu itu. Aku tahu nomor kamu dari Hani, teman sebangku kamu waktu kelas 7. Oh ya, tadi yang menelepon ke telepon rumah kamu, itu aku. Maaf ya, aku ganggu.”
“Iya lah… Habis, kamu tiba-tiba marahi aku, padahal itu kan salah kamu juga. Oh… Itu kamu, pantas suaranya mirip dengan suara yang sekarang, tadinya aku kira teroris. Hehe. Iya, gak apa-apa. Ki, Caca mau ngerjain tugas Bahasa Indonesia dulu, ya.”
“Tugas Bahasa Indonesia? Yang buat pengalaman menarik itu bukan?”
“Iya, kamu udah buat atau belum?”
“Oh… Aku juga belum. Ya udah, kita kerjain dulu.”
“Iya, Ki. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
“Tuut… Tuut… Tuut…” tertutuplah percakapan Caca dan Kiki.
Keesokan harinya, mereka bertemu. Di sekolah, mereka melakukan pendekatan. Yaa… Kalau bahasa gaulnya sih PDKT gitu. Tetapi PDKT yang ini hanya untuk mengenal satu sama lain, karena dahulu mereka terlanjur bermarahan.
Sampai beberapa waktu berlalu. Setelah mereka mengenal satu sama lain, terciptalah satu tali persahabatan antara mereka. Setiap mereka mempunyai masalah dan ingin mencurahkan keadaan hati mereka, mereka selalu bertukar pikiran. Mereka saling mengerti satu sama lain. Teman-teman di sekolah merekapun tidak pernah heran melihat kedekatan mereka karena tahu dari dahulu mereka adalah sahabat yang sangat dikenal di sekolah.
Setahun berlalu lagi. Dan liburan kenaikan kelaspun berlalu juga. Waktunya menunggu pembagian kelas yang baru ditempel di madding sekolah. Akhirnya pembagian kelaspun ditempelkan di madding. Saat ini Caca dan Kiki mengharapkan mereka dipersatukan lagi. Tapi sayangnya, setelah melihat madding, kali ini mereka tidak sama kelasnya. Dan Caca hanya bias berkata.
“Ya sudahlah, tak apa, Cuma beda kelas ini. Ya kan?” kata Caca pada Kiki.
“Iya Ca, kita kan masih bisa bertemu diluar kelas.” jawab Kiki sambil menundukan kepalanya.
Merekapun sering bertemu diluar kelas, maupun di tempat tongkrongan mereka dengan teman-teman mereka yang lainnya.
Beberapa minggu kemudian, diwaktu istirahat sekolah, Kiki menghampiri Caca yang sedang asyik berbincang dengan teman-temannya.
“Ca, nanti pulang sekolah ke basecamp kita ya, ada yang mau Ki omongin sama kamu!” seru Kiki.
“Ada apa sih, Ki? Kenapa gak sekalian disini aja, Ki?” tanya Caca dengan penasaran.
“Udah, nanti aja disana. Pokoknya ada yang mau Ki omongin! Penting!”
“Akh… Bikin orang penasaran aja kamu, Ki. Ya udah, kapan Ca harus kesana?”
“Biarin, aku kan hobi bikin kejutan. Nanti pulang sekolah aja, bias kan, Ca?” Kiki berkata sambil tersenyum.
“Huh… Dasar! Oh… Ya udah, nanti pulang sekolah Ca kesana.”
“Hehe… Benar, ya? Ki tunggu loh!” seru Kiki sambil tertawa.
“Iya, siip deh.”
Kikipun langsung pergi ke kantin dengan teman-temannya karena waktu istirahat masih lama.
“Teng… Teng… Teng…” bel sekolah akhirnya berbunyi, waktunya pulang. Dan Caca langsung menuju ke tempat tongkrongannya.
Sesampainya Caca di tempat tongkrongan itu, ia bingung melihat sekitarnya.
“Wiih… Tumben sepi. Biasanya jam segini udah pada ngumpul. Kemana anak-anak, ya?” Caca bertanya didalam hatinya.
Dengan tiba-tiba
“Darr… Derr… Dorr…” suara petasan yang mengejutkan disekeliling tempat Caca berpijak. Dan dengan tiba-tiba teman-teman menyorakinya.
“Ada apa ini? Ada yang ulang tahun? Kok Caca yang dikelilingi? Ulang tahun Caca kan udah lewat sebulan yang lalu? Kalian salah orang kali, ya?” tanya Caca pada teman-temannya. Kikipun datang menghampiri Caca yang sedang dikelilingi oleh teman-temannya.
“Gak kok, Ca. Ini memang kejutan untuk kamu. Kiki sengaja buat semua ini.” jawab Kiki.
“Tapi, dalam rangka apa kamu buat semua ini untuk Caca, Ki? Kata kamu, tadi kamu mau ngomongin sesuatu? Tapi kok ada acara kayak begini segala?” tanya Caca heran.
“Memang nggak boleh ya, Ca? Kiki kan cuma mau kasih kejutan sama kamu, Ca.” Kiki bicara sambil cemberut.
“Ya… Boleh-boleh aja kok, Ki. Jangan sambil cemberut gitu dong! Senyum dong!” seru Caca memperagakan dengan senyuman.
“Iya… Iya… Ca, sebenarnya Kiki mau ngomong sesuatu.”
“Mau ngomong apa, Ki? Serius banget kayaknya? Tapi kok didepan anak-anak begini ngomongnya?”
“Gak apa-apa, biar anak-anak tahu seberapa besar……” Kiki memotong perkataannya.
“Seberapa besar apanya, Ki?” Caca makin heran.
“Seberapa besar cinta Kiki sama kamu, Ca.” jawab Kiki singkat.
“Cinta?” Caca bingung.
“Iya. cinta. Sebenarnya udah lama Ki simpan semua rasa cinta Ki ke kamu, Ca. Apa kamu merasakan apa yang saat ini aku rasakan? Kiki mau kamu jadi pacar Ki. Apa”
“Caca? Pacar? Gak tahu, Ki. Sebenarnya Caca juga merasakan hal yang sama seperti apa yang saat ini Kiki rasakan. Tapi Caca gak mau gara-gara cinta, persahabatan kita putus begitu aja kalau misalnya terjadi suatu masalah.” Caca kebingungan.
“Kenapa? Kamu takut aku nyakitin kamu seperti apa yang mantan-mantan pacar kamu lakukan ke kamu, Ca? Tanang aja, Ca! Kiki gak bakal nyakitin maupun khianatin kamu.”
“Apa benar apa yang saat ini kamu katakan itu?”
“Iya, Ca. Kiki janji.”
“Yakin janji kamu gak bakal ditepatin?”
“Yakin, Ca! Jadi, gimana jawabannya?”
“Jawabannya?”
“Iya lah, apa lagi yang Kiki tunggu selain itu.”
“Sabar, bu… Caca mikir dulu ya!” seru Caca.
“Iya…”
Beberapa saat kemudian, setelah lama menunggu.
“Ki, masih mau jawabannya?” tanya Caca.
“Iya dong, Ca. Apa jawabannya?”
“Jawabannya… Tidak…” jawab Caca singkat sambil tersenyum.
“????!!!!!!” Kiki kaget.
“Lah… Kok kaget gitu sih? Biasa aja dong. Caca kan belum selesai ngomongnya. Maksud Caca tidak itu, tidak mungkin Caca menolak permintaan kamu.”
“Apa??? Serius, Ca?” saking kagetnya, Kiki malah bertanya.
“Iya, serius!” jawab Caca.
“Yess…”
Setelah kejadian itu, hubungan Caca dan Kiki baik dan tenteram-tenteram saja. Tetapi setelah beberapa bulan berlalu, entah mengapa secara tiba-tiba, terjadilah konflik antara mereka. Kiki menduakan cintanya Caca. Setelah itu, hubungan merekapun putus ditengah jalan. Dan hingga sekarang mereka tidak pernah menyapa satu sama lain lagi.
Ternyata perkiraan Caca benar. Cinta akan merusak persahabatan mereka. Jadi, kita lebih baik bersahabat daripada bermain cinta.
**SELESAI** *Description: Rusaknya Persahabatan Karena Cinta Rating: 4.5 Reviewer: Triesa Nurul Azmi, S.Pd., Gr. - ItemReviewed: Rusaknya Persahabatan Karena Cinta*


0 komentar:
Posting Komentar